Ular adalah hewan yang menjijikkan dan menakutkan. Malah, manusia yang memiliki sifat seperti ular, banyak dijauhi dalam pergaulan. Tapi, mengapa ular dijadikan logo apotek dan lembaga kedokteran? Ternyata, dalam tubuh ular banyak zat penyembuh berbagai penyakit. Malah bisa atau racun ular dinilai ampuh untuk membunuh dan menyembuhkan kanker.
Menyembuhkan penyakit dengan bisa ular, dinilai tidak modern. Tapi para ahli kedokteran kini justru banyak menggunakan bisa ular dalam memformulasikan obat-obatan. Hal ini diakui Prof. Dr. H. Hembing Wijayakusuma, penemu akupunktur sengat lebah yang juga pakar pengobatan tradisional.
Di beberapa kota besar, di antaranya Jakarta, banyak berdiri tempat pengobatan tradisional yang menggunakan ular sebagai alternatif penyembuhan penyakit. Pasien pun terus membengkak dari berbagai kelas sosial dengan pendidikan menengah ke atas.
Bahkan di Cina, pengobatan tradisional dengan menggunakan racun dan bagian ular, sudah merakyat. Menurut Hembing, cara pengobatan semacam ini sudah ada sejak 2000 tahun lalu. Saat ini sekurang-kurangnya ada kombinasi antara pengobatan modern dengan pengobatan tradisional.
Menurut penelitian, tercatat sekitar 2.700 jenis ular. Indonesia memiliki lebih dari 400 jenis ular. Dari jumlah itu, sekitar 20 jenis ular dapat diolah menjadi obat, di antaranya ular sanca, kobra dan ular belang.
Dalam literatur Cina, Shen Nong Ben Cao Jing yang terkenal di zaman Xi-Han sekitar 2.000 tahun silam, menguraikan manfaat ular untuk pengobatan. Literatur itu menjelaskan, hampir seluruh bagian tubuh ular dapat digunakan sebagai obat. Tapi orang awam hanya mengenal sebagian kecil dari tubuh ular, seperti darah daging, dan empedunya.saja.
No comments:
Post a Comment